Tes 1000 Template

Tes 1000 Template Game Blog | Created By Www.BestTheme.Net

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

Hello world!
Righteous Kill
Quisque sed felis

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

About Us

Popular Posts

Popular Posts

Righteous Kill

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Quisque sed felis

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Etiam augue pede, molestie eget.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in ...

Hellgate is back

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit ...

Post with links

This is the web2feel wordpress theme demo site. You have come here from our home page. Explore the Theme preview and inorder to RETURN to the web2feel home page CLICK ...

Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan


Hello 2017...
Apa resolusi piknik kamu tahun ini? Kalau The Emak sih nggak muluk-muluk karena resolusi tahun lalu banyak gagalnya, hiks. Tapi ketolong sama pengalaman traveling di akhir tahun yang tak disangka-sangka: cruising! Tahun ini keluarga precils insyaallah akan ke KL dan Malaka (dapat tiket 0 rupiah AA dari tahun lalu) dan LOB Komodo (amin YRA). Udah itu doang? Enggak sih, nanti ditambah staycation sana-sini dan weekend mini trip entah nyangkut di mana, hahaha. Trus The Emak juga punya keinginan terpendam untuk #ngopibarengnicsap2017 karena kan destinasi nggak melulu tempat, bisa juga orang.

Nah, yang lebih penting dari sekadar resolusi piknik adalah bagaimana cara untuk mewujudkannya.Traveling pasti perlu modal dong. Kabar baiknya, nggak semua biaya traveling harus dibayar dengan uang. Bisa juga dibayar pakai miles untuk tiket pesawat, pakai kredit poin untuk penginapan, dan pakai doa kalau pengen menang kuis ;) Emak yang baik hati dan tidak sombong ini akan berbagi tips untuk ngumpulin duit dan poin receh agar resolusi piknik kamu kesampaian.

Untuk bisa mengumpulkan miles/mileage (poin penerbangan), kita harus jadi anggota frequent flyer dari suatu maskapai. Nama program tiap perusahaan penerbangan bisa beda-beda. Untuk orang Indonesia, saya sarankan minimal ikut tiga keanggotaan frequent flyer ini: Garuda Indonesia, Air Asia, dan Singapore Air. 

"Duh, saya kan jarang terbang?" Tenang, untuk ikut keanggotaan ini nggak perlu harus sering terbang kok. Bahkan sebaiknya mendaftar jadi anggota sebelum terbang dan sebaiknya sebelum beli tiket agar nomor frequent flyer bisa dicantumkan ketika membeli tiket. 

Cara mendaftar gampang kok, seperti ketika kita membuat akun email. Klik masing-masing website-nya ya, trus cari tombol Daftar/Join/Register.
Garuda Miles: https://garudamiles.com    
Air Asia Big Loyalty Programme: http://www.airasiabig.com/id/id/
Kris Flyer SIA: http://www.singaporeair.com/KrisFlyer

Nah, kalau keanggotaan frequent flyer udah beres, mari kita cari tahu cara memperoleh poinnya. Nggak melulu dari terbang lho. The Emak punya 7 tips untuk ngumpulin remah-remah biaya untuk traveling.



‎1. Mengumpulkan receh (literally)
Ini serius. Saya selalu meminta uang kembalian kalau belanja di minimarket atau supermarket. Dan saya pasti mengecek struk belanja sebelum keluar dari toko. Untuk toko besar biasanya sih saya pakai kartu debit atau kredit, tapi untuk toko kecil saya pakai uang kas. Lebih sering saya yang memberi kasir uang kembalian karena saya selalu bawa recehan di dompet untuk belanja.

Bukannya saya pelit untuk donasi ya, tapi untuk zakat, uang qurban dan sumbangan sosial memang sudah saya program, bukan dari uang receh. Donasi pun akan sampai ke penerima yang kita pilih sendiri.

Latihan minta uang kembalian ini membuat kita menghargai uang kecil, karena uang besar berasal dari uang kecil. Dalam bahasa Ibuk saya yang pedagang, kita harus "setiti". Apa ya bahasa Indonesianya yang pas? Karena benar-benar uang receh, tentu hasilnya setahun enggak banyak, tapi tetap saja ada harganya. Misal sehari kita bisa mengumpulkan 1000 rupiah saja, setahun kita bisa dapat 365 ribu. Cukup untuk bayar pajak bandara, karena meski kita bisa membeli tiket pesawat dengan miles, pajak bandara tetap harus dibayar pakai uang, nggak bisa pakai daun :)

2. Mengumpulkan cashback dari Shopback 
Hayo siapa yang hobi online shopping? *ikut ngacung. Sejak kenal Shopback, saya selalu belanja melalui website/apps ini karena setiap belanjaan kita bakalan dapat uang kembalian antara 2% sampai 15%. Belanjaan saya juga kebutuhan sehari-hari sih seperti beli pulsa, bayar PDAM, bayar BPJS di tokopedia; beli tiket nonton di BookMyShow; beli tiket pesawat di PegiPegi, Tiket, atau Nusatrip tergantung mana yang lebih murah; booking hotel di Booking dot com atau Agoda.

Keuntungan jadi anggota Shopback ini, uang kembalian kita terkumpul di suatu tempat dan bisa ditarik jadi tunai (transfer ke rekening bank kita) kapan pun kita mau. Lumayan kan kalau dalam setahun bisa dapat 3-4 juta? Tinggal bilang ke pasangan kita, "Sayang, liburan yuk aku yang traktir." :p

 
Daftar Shopback pakai referral saya untuk mendapatkan bonus Rp 45.000: https://www.shopback.co.id/?raf=YppJr2


https://www.shopback.co.id/?raf=YppJr2
Toko favorit ada di sini semua
Cashback saya :) Lumayan yah.

3. Mengisi Survey YouGov untuk Poin Airasia Big
Ini tadi yang saya bilang nggak harus sering terbang untuk mencari poin frequent flyer. Kita bisa mendapatkan poin Air Asia Big hanya dengan mengisi survey. Setiap survey bisa dapat poin mulai dari 25 poin sampai 150 poin. Nanti kalau sudah terkumpul 5000 poin, bisa ditukar menjadi 2500 poin AirAsia Big. Kalau sedang promo, banyak rute Air Asia yang bisa ditukar hanya dengan 500 poin saja, misalnya Jakarta - KL, Jakarta - Penang, Jakarta - Bali, Surabaya - Johor Bahru, dll.

Surveynya gampang kok, tentang kehidupan kita sehari-hari. Misalnya tentang pemakaian internet di rumah, merk sabun yang sering dipakai, pendapat tentang service provider, dll. Setelah mendaftar, nanti akan dikirimi email kalau ada survey yang cocok dengan profil kita. Surveynya bisa dikerjakan di komputer atau smartphone, dan biasanya nggak sampai 10 menit.

Daftar survey YouGov di sini:
https://id.yougov.com/en-id/refer/TQ3vAFZlkjhYLB6Bv-KGvw/



4. Menulis Review di Tripadvisor untuk Miles Garuda
Selain survey, kita juga bisa menambah miles dengan cara menulis review di Tripadvisor Indonesia. Sebenarnya kita bisa memilih, poinnya mau ditukar jadi Garuda Miles atau Air Asia Big, tapi saya lebih memilih ditukar Garuda Miles. Setiap reviewer hanya boleh memilih salah satu.

Yang harus dilakukan adalah mendaftar jadi anggota Garuda Miles dulu agar mendapatkan nomor anggota. Setelah itu, daftar menjadi anggota Tripadvisor Indonesia (bisa dengan akun facebook biar nggak ribet). Baru kemudian menyambungkan program mileage dari review Tripadvisor di sini:
https://www.tripadvisor.co.id/GarudaMiles

Yang bisa diulas di Tripadvisor tidak cuma hotel atau penginapan, tapi juga restoran atau tempat wisata. Jadi tanpa pergi jauh pun kita bisa menulis tentang warung langganan di kota kita sendiri. Setiap tempat yang kita review punya nilai mileage sendiri, mulai dari 5 poin sampai 200 poin. Ulasan harus otentik ya, artinya kita memang pernah punya pengalaman di tempat yang kita review. Ulasan palsu akan membuat kita di-blacklist oleh Tripadvisor. 

Miles yang dibutuhkan untuk terbang dengan Garuda dari Surabaya ke Bali adalah 4000. Kalau tiap review rata-rata dapat 50 miles, kita tinggal menulis 80 kali :) Atau redeem miles Garudanya pas diskon 50%, jadi untuk SUB - DPS atau Jakarta - Belitong tinggal perlu 2000 poin (40-an review) saja. Baca pengalaman saya menukar Garuda miles untuk terbang ke Bali sekeluarga di sini.


 
Poin dari review langsung masuk miles Garuda


5. Join Afiliasi Airbnb
Airbnb adalah apps dan website favorit saya untuk mencari vila atau apartemen ketika harga hotel terlalu mahal. Saya pernah memakai airbnb untuk memesan penginapan di Paris, Ubud, Taipei, dan baru-baru saja Jogja.

Airbnb juga termasuk yang murah hati memberikan credit point untuk para affiliate-nya. Kalau saya memberikan referral pada seseorang untuk bergabung dengan airbnb, orang tersebut akan mendapat Rp 295.000 (besaran kupon ini bisa berubah sesuai program mereka) dan saya akan mendapat jumlah yang sama kalau orang tersebut memesan penginapan. Karena rajin memberikan referral, selama ini saya bisa memesan penginapan di airbnb dengan diskon besar atau bahkan gratis :)


Daftar airbnb pakai tautan ini ya: https://www.airbnb.com/c/akumalasari

 


6. Join Afiliasi Hotel Quickly
Hotel Quickly adalah apps favorit saya untuk memesan hotel yang diperlukan secara mendadak. Apps ini paling pas untuk staycation. Saya pernah pakai untuk memesan beberapa hotel di Surabaya.

Untuk bisa menjadi affiliate, kalian harus mendaftar di apps Hotel Quickly dulu, cari apps nya di Google Play atau App Store. Setelah itu masukkan kode AKUMA72 untuk mendapatkan diskon tambahan 15% untuk pemesanan pertama. Nanti di apps, kalian bakalan punya banyak pilihan untuk memberikan referral ke teman-teman dan akan mendapat Rp 10.000 setiap kali teman menggunakan kode kalian, plus 10% dari pemesanan ketika teman kalian booking hotel. Lumayan, kreditnya bisa buat staycation leha-leha. Kalau udah punya kredit mending cepat dipakai sebelum expire :)
 
tampilan apps HQ




7. Menukar Poin Kartu Kredit
Tip terakhir untuk membiayai liburan adalah dengan menukar poin kartu kredit. Tentu saja syaratnya kalian punya kartu kredit, hehehe. Eh kalau nggak punya kartu kredit, ada kok kartu debit yang poinnya bisa ditukar miles Garuda, contohya Fiestapoin Bank Mandiri.

Bagi keluarga saya, kartu kredit adalah alat bayar yang praktis, terutama ketika bertransaksi online atau transaksi di luar negeri. Kami tidak pernah ngutang dan pasti membayar tagihan tepat waktu, jadi tidak pernah membayar bunga. Karena memang hanya sebagai alat bayar, kami masing-masing hanya punya satu kartu kredit.

Kalau kalian ingin mengumpulkan miles melalui poin kartu kredit, sebaiknya memang memilih kartu kredit yang bekerja sama dengan maskapai tertentu, agar milesnya cepat bertambah. Untuk miles Air Asia pilih CIMB Niaga, Singapore Air pilih BCA, sementara Garuda bekerja sama dengan BNI dan Citibank.

Tapi kartu kredit lain pun tetap bisa ditukar dengan miles. Bahkan keuntungan punya kartu kredit biasa, poinnya juga bisa ditukar dengan poin dari hotel, misalnya poin IHG (Holiday Inn) atau Hilton Honor. Kami pernah menginap gratis di Holiday Inn Penang dengan menukar poin IHG plus tambahan dari poin kartu kredit. Saya juga pernah merasakan terbang dengan kelas bisnis Singapore Air dengan menukarkan miles Krisflyer plus tambahan poin dari kartu kredit suami, hihihi. Padahal, saya belum pernah membeli tiket SQ dengan duit saya sendiri. Miles yang saya tukarkan berasal dari tiket hadiah ketika saya memenangkan kuis New Zealand Tourism. Moral of the story: selalu daftar keanggotaan frequent flyer sebelum kamu beli tiket pesawat atau sebelum kamu menang kuis :)


Itu semua tip-tip yang bisa kita semua lakukan sebagai rakyat jelata biasa. Tentu masih ada cara lain, misalnya endorse instagram kalau kamu arteeees. Atau bisa pasang iklan di blog kalau view blog kamu ratusan ribu sebulan, hehe. Tapi nggak papa, tetap optimis ya untuk #resolusipiknik2017 kamu. Jangan sampai kita rakyat biasa kena derita #kurangpiknik. Gimana, ada yang mau bareng kami ke Labuhan Bajo?


~ The Emak



Bulan Juni Si Ayah menghadiri konferensi di Canberra. Tentu Si Emak saleha yang mengurusi semuanya, termasuk cari tiket pesawat (pakai Air Asia dari DPS - SYD, 5 jutaan), pesan penginapan (dapatnya paling murah di ANU University House) dan mencarikan transportasi dari Sydney ke Canberra. Tidak ada penerbangan langsung dari kota di Indonesia ke Canberra, jadi memang harus transit. Kota terdekat dengan Canberra adalah Sydney (3 jam berkendara). 

Pilihan transportasi dari Sydney ke Canberra bisa dengan kereta api, pesawat, sewa mobil atau dengan bus (coach). Kereta api kurang saya rekomendasikan karena waktu tempuhnya yang lebih lama daripada bus (4 jam 20 menit) dan harganya sedikit lebih mahal daripada tiket bis (AUD 39,54). Jangan kaget ya kalau kereta api di Australia jalannya lambaaaaat, hahaha. Kereta api ini cocok untuk orang yang selo, karena jadwalnya pun kurang fleksibel, hanya ada tiga jadwal kereta dari Sydney ke Canberra: jam 7, 12 dan 18. Untuk lebih lengkapnya cek http://www.nswtrainlink.info.

Pesawat adalah pilihan transportasi dengan waktu tercepat. Tapi tentu saja harganya lebih mahal. Tiket termurah sekitar $145 untuk 1 jam penerbangan (cek website webjet.com.au). Kalau dihitung dengan waktu untuk sampai ke bandara dan untuk cek in, tentu waktu perjalanan tidak beda jauh dengan naik bus yang hanya perlu 3,5 jam.

Dulu ketika kami tinggal di Sydney, kami menggunakan mobil pribadi atau menyewa mobil ketika ke Canberra. Perjalanan ke Canberra melewati jalan tol yang mulus banget, jarak sekitar 300 km bisa ditempuh dalam 3 jam saja. Tapi perjalanan dengan menyetir sendiri ini sungguh membosankan karena pemandangannya itu-itu saja, dan juga rawan ngantuk karena jalanan terlalu sepi dan terlalu mulus :p

Karena itu, untuk kali ini, naik bus adalah pilihan terbaik untuk si Ayah. Saya segera mengecek website Murrays, perusahaan bus terkemuka di Sydney. Di website-nya, kita bisa langsung memesan tiket sesuai jadwal yang tersedia setiap jam. Bayarnya pakai kartu kredit. Waktu saya pesankan, ada tiket diskon seharga $30 untuk jadwal di pagi hari. Tentu saya nggak mau kehabisan!



Sebenarnya ada pilihan lain selain bus Murrays, yaitu bus Greyhound yang cukup terpercaya juga. Tapi jadwal bus Greyhound ke Canberra tidak sesering bus Murrays. Jadwal dan harga tiket bisa dicek langsung di website Greyhound Australia. 

Terminal bus Sydney ada di sebelah stasiun Central. Datanglah sesuai jadwal keberangkatan karena bus pasti tepat waktu. Kalau sudah memesan, cukup antre dengan tertib untuk naik ke dalam bus karena sopir sudah punya daftar nama penumpang. Nggak perlu terburu-buru atau nyela antrean ya, semua pasti kebagian tempat duduk. Kata Si Ayah, interior bus-nya cukup mewah dan nyaman. Setiap penumpang harus memakai seat belt. Iya, aturan Australia memang gitu :p Setiap tempat duduk ada colokan listriknya untuk nge-charge (yay, ini penting!) dan tersedia juga toilet (yang nggak bau) di bagian belakang. Di dalam bus boleh minum atau makan, asal bukan minuman atau makanan panas.

Perjalanan sekitar 3,5 jam dan berlangsung mulus-mulus saja, bisa disambi bekerja atau... tidur!



Di Canberra, terminalnya ada di Jolimont, sebelah hotel Novotel. Kami pernah menginap di Novotel Canberra ini, review-nya bisa dibaca di sini. Dari terminal tinggal jalan sekitar dua puluh menit ke ANU University House. Atau kalau kalian pengen menginap di hostel, ada Canberra City YHA, 15 menit jalan kaki dari terminal bus ini.

Selain ke Canberra, Murrays juga melayani jalur bus dari Sydney ke Snowy Mountain dengan tarif $120 pp. Cukup mahal sih, dibandingkan dengan tur sehari yang tarifnya mulai $99 saja, contohnya di http://www.apsetours.com.

Menurut saya, Canberra ini kotanya ngebosenin, hehe. Kalau memang penasaran mau ke sini, pas kan waktunya ketika ada Floriade atau Festival bunga di musim semi, sekitar bulan September-Oktober. Atau bisa juga mampir ke Canberra ketika mau lihat salju di Snow Mountain (3 jam berkendara dari Canberra).

~ The Emak


Bulan Juni dan Juli, saya empat kali transit di Changi, terbang ke New Zealand dengan Singapore Airlines dan terbang ke Eropa dengan Emirates. Biasanya, ketika terbang ke arah timur Indonesia, tujuan Australia, saya lebih suka transit di Denpasar karena menghemat waktu terbang. Tapi untuk tujuan Selandia Baru memang belum ada penerbangan langsung dari Indonesia, sehingga terpaksa harus bolak-balik terbang ke barat dulu, baru ke timur lagi. Kalau tujuan akhirnya memang ke arah barat seperti Timur Tengah atau Eropa, tentu saya lebih memilih transit di bandara Changi daripada bandara lain (Soekarno-Hatta atau KLIA).

Ketika mendapat itinerary tiket SQ dari Jakarta ke Christchurch via Singapore, saya deg-deg-an melihat waktu layover yang mepet banget. Ketika berangkat, memang ada waktu 3 jam untuk transit. Tapi pulangnya, hanya ada waktu 55 menit untuk turun dari pesawat dan boarding lagi ke pesawat berikutnya melewati pemeriksaan keamanan. Beda terminal lagi! Duh, piye iki?

Saya ingat repotnya pindah dari satu terminal ke terminal lain dalam bandara yang sama di Indonesia. Waktu nyasar di T1 Juanda, padahal harus berangkat dari terminal 2, kami perlu waktu 30 menit. Di Changi? Untungnya antar terminal cuma perlu waktu 3 menit, dengan naik skytrain gratis. Skytrain ini seperti monorail, yang menghubungkan T1, T2 dan T3 Changi, datang setiap 3 menit. Stasiun skytrain bisa diakses dari public area (daerah umum, di luar pemeriksaan imigrasi) dan transit area (daerah transit, di dalam pemeriksaan imigrasi).

Stasiun Skytrain
Toilet Changi yang luas, bersih dan wangi
Ketika penumpang mendarat di Changi, dia ada di transit area. Kalau bagasi sudah diurus oleh maskapai yang sama maupun yang menggunakan code share, penumpang tidak perlu melalui pemeriksaan imigrasi, mengambil bagasi dan cek in lagi. Penumpang transit bisa langsung menuju boarding gate pesawat berikutnya, meskipun terletak di terminal yang berbeda. Ketika saya ke New Zealand, bagasi saya sudah diurus di Jakarta dan langsung diterbangkan ke Christchurch. Ketika cek in di Jakarta, saya sudah mendapat boarding pass pesawat dari Singapura ke New Zealand. Begitu turun pesawat di Changi, saya tinggal menunggu boarding lagi di transit area. Saya punya waktu tiga jam yang bisa saya gunakan untuk browsing internet, kirim kabar ke orang rumah, sholat dan dandan di toilet yang bersih dan luas.

Pulang dari Christchurch, saya harus 'mengejar' pesawat ke Jakarta, dalam waktu 55 menit. Ternyata Singapore Airlines sudah punya sistem yang bagus untuk transfer. Kira-kira satu jam sebelum pesawat mendarat, kami sudah diberi pengumuman lokasi boarding gate pesawat berikutnya yang akan kita tumpangi. Para penumpang yang lay over-nya cepat juga diberi tempat duduk paling depan sehingga paling cepat keluar dan segera menuju boarding gate lagi. Ada petugas yang 'menjemput' para penumpang yang transitnya mepet ini, memberi tahu arah agar tidak salah jalan. Ketika itu saya mendarat di T3, tapi harus boarding lagi di T2. Semua berjalan lancar dan mulus-mulus saja, saya hanya perlu waktu 10 menit (jalan kaki dan menunggu skytrain) untuk pindah terminal. Kira-kira perlu waktu 15 menit untuk antre pemeriksaan keamanan. Dan voila, saya sudah duduk manis lagi di penerbangan selanjutnya. Mungkin lain ceritanya kalau ada yang perlu ke toilet. Duh, antre toilet di dekat pesawat mendarat tuh pasti puanjang banget. Good luck aja deh :) Pengalaman saya, pesawat SQ dari Singapura ke Jakarta sedikit terlambat karena menunggu setoran bagasi dari penumpang transit (milik saya, hehe). Jadi yang membeli tiket terusan dari maskapai yang sama (atau codeshare), tidak perlu panik kalau waktu transit di Changi mepet. Kurang dari sejam pun bisa terkejar, bahkan kalau kita bawa anak-anak.


Beda dengan ketika kami sekeluarga mau ke Eropa, kami tetap harus melewati imigrasi (cek paspor) karena pesawat yang kami beli ketengan, bukan pesawat terusan dari Surabaya ke Paris. Dari Surabaya ke Singapura kami naik Air Asia. Dari Singapura ke Paris kami naik Emirates. Terpaksa bagasi kami ambil sendiri lagi dan cek in ulang di konter Emirates. Begitu juga pulangnya, dari Paris ke Singapura (via Dubai) kami naik Emirates. Tapi untuk menuju Surabaya, kami naik China Airlines. Lama menunggu pesawat di Changi, baik berangkat atau pulang sekitar enam jam.

Di Changi, banyak tanda penunjuk jalan dan rambu-rambu dalam empat bahasa (Inggris, Mandarin, Melayu dan Tamil) sehingga kita nggak akan nyasar. Kalaupun nyasar, petugas bandara mudah ditemui. Di setiap sudut ada informasi penerbangan dan juga papan interaktif yang akan memberitahu kita 'rute' yang harus kita tempuh kalau kita ingin menuju suatu tempat. Saya juga salut dengan fasilitas-fasilitas bandara Changi yang memanjakan pengunjungnya. Semua fasilitas seperti toilet, ruang perawatan bayi dan tempat sholat (prayer room) terawat dengan baik, dalam kondisi bersih dan tersedia di mana-mana. Musholla dipisah antara laki-laki dan perempuan, termasuk tempat wudhunya. Tempatnya bersih dan nyaman, meskipun tidak besar. Ada mukena yang bisa dipinjam kalau kita tidak bawa mukena sendiri. Di sini tempat yang paling nyaman untuk menyelonjorkan kaki dan menghilangkan penat. Tapi di dinding musholla jelas-jelas ada tanda larangan: "Strictly No Eating And Sleeping Is Allowed In This Room" Dilarang keras makan dan tidur di ruangan ini.

Apa fasilitas yang paling kami sukai? Internet gratis tentu saja, biar gak bosen menunggu berjam-jam. Kita bisa mengakses internet gratis langsung dari gadget yang kita bawa (ponsel, tablet, laptop) atau dengan menggunakan komputer yang ada di setiap terminal. Saya juga menemukan beberapa komputer berinternet ini tersedia di dalam boarding gate. Cocok untuk update pesan di Facebook sebelum berangkat. Dari ponsel, ketika wifi kita sudah terhubung, kita diminta mendaftarkan alamat email dan nomor ponsel. Setelah itu akan ada pesan bahwa password akan dikirim ke nomor ponsel kita. Sayangnya waktu itu, nomor ponsel Indonesia saya tidak bisa menerima password. Kalau terjadi seperti ini, datang saja ke gerai informasi untuk meminta password dari mereka. 
 
Internet gratis.
Prayer room. Ada sign 'Tidak boleh tidur di sini'
Lalu, selama menunggu pesawat selanjutnya, enaknya ke mana saja? Ini daftar tempat nongkrong favorit kami di T1 dan T3 Changi airport.

1. Slide & Playground at T3 (Public Area)
Ini tempat bermain yang kami temukan di public area T3, letaknya di B2 (basement), dekat Starbucks. Selain arena bermain kecil, ada juga seluncuran yang lumayan mengundang nyali anak-anak. Semuanya gratis. Begitu mencoba sekali, Little A ingin mencoba lagi dan lagi. Seluncuran ini tidak dijaga, jadi untuk anak-anak yang masih kecil (minimal tinggi 100cm) harus dijaga orang tuanya. Kalau bosan bermain dan meluncur, ada air mancur menari di sebelah Starbucks.


2. Social Tree T1 (Transit Area)
Kita akan langsung menemukan Social Tree setelah melewati pemeriksaan imigrasi di Terminal 1. Di pohon ini, kita bisa berselfie di mesin khusus, lalu menghias dan mengunggahnya ke atas. Satu pose? Nggak cukup lah.
Setelah capek selfie, kita bisa duduk di sofa-sofa empuk di sebelahnya, sambil memandang aktivitas pesawat di runway dari balik kaca.


3. Butterfly Garden T3 (Transit Area)
Letaknya di T3, agak tersembunyi di belakang, jadi kalau nyasar, mintalah bantuan petugas. Troli kecil bisa dibawa masuk. Taman kupu-kupu ini keren karena kita bisa melihat berbagai jenis kupu-kupu (jelas lah!). Saya bukan penggemar kupu-kupu tapi tetap senang berjalan-jalan di antara mereka yang terbang dengan lincah dan gembira. Suhu di taman ini cukup panas, seperti di luar ruang. Yang nggak kuat berpanas-panas seperti saya, monggo balik lagi ke ruang ber-AC :D

4. Koi Pond T3 (Transit Area)
Kolam koi ini persis di sebelah taman kupu-kupu, di terminal 3. Anak-anak pasti seneng ke sini. Suasananya lebih adem daripada taman kupu-kupu. Di sampingnya banyak sofa dengan colokan. Pas banget untuk nge-charge gadget. Kami berlama-lama di sini, sambil mencoba mesin pijat kaki di pojok ruangan, membuatkan susu untuk Little A dari air panas di nursery room, dan tentu saja leyeh-leyeh sambil menunggu jam makan.



5. Playground T3 (Transit Area)
Kami senang sekali main-main di terminal 3, meskipun pesawat kami sendiri boarding dari terminal 1. Karena punya banyak waktu menunggu, kami puas jalan-jalan menyusuri sudut-sudut Changi ini. Di seberang kolam koi, setelah Hard Rock Cafe ada area bermain untuk anak. Cukup bagus, ada seluncurannya juga. Lokasi ini juga dekat dengan Snooze lounge di mezzanine untuk tidur dan dekat food court.


6. Singapore Street Eat T3 (Transit Area)
Ini tempat makan baru yang oke banget di terminal 3. Desainnya seperti ruko-ruko peranakan. Pilihan makanannya beragam. Kami makan di sini sebelum terbang ke Paris via Dubai. Pilihan kami adalah duck rice (SGD 6,50), beef hor fun (SGD 8), roasted chicken (SGD 5,50) dan tidak lupa chendol (SGD 4). Untuk membayar, kami membeli voucher dalam bentuk kartu di kasir (nominal terserah, kami membeli SGD 50). Kartu ini dipakai untuk membayar di outlet-outlet yang kita pilih. Kalau ada sisa, bisa diuangkan kembali. Saya senang makan di sini karena enak dan harganya tidak mahal.


7. Food Court & Snooze Lounge T1 (Transit Area)
Pulang dari Eropa, kami naik pesawat China Airlines untuk kembali ke Surabaya. Pesawat boarding di terminal 1. Ketika kami pertama kali ke Singapura, Si Ayah dan Big A pernah mencoba makan chicken rice di food court T1, mereka seneng banget dan ingin mencoba lagi. Tapi kali ini kami memilih duduk-duduk di lounge sebelah food court, yang sofanya lebih nyaman plus ada colokan untuk nge-charge. Saya yang waktu itu belum lapar banget memilih ngemil popcorn ayam dari Texas Chicken.

Saya senang menunggu di Changi Airport, tetap nyaman tanpa harus mengeluarkan uang (kecuali untuk beli makanan). Beda dengan bandara Dubai yang fasilitas utamanya adalah toko duty free. Ada yang senang transit di Changi juga? Di mana tempat nongkrong favoritmu?


~ The Emak

Baca juga:
Changi Airport, Terbaik di Dunia?
Terbang Ke New Zealand Dengan Singapore Airlines
Terbang ke Singapura dengan Jetstar
Singapore With Kids: Itinerary & Budget

Keluarga Precils dengan tas-tasnya di stasiun Brussel Centraal
Ketika mendapat konfirmasi booking Emirates ke Eropa, saya norak-norak bergembira melihat jatah bagasi masing-masing 30kg. Jatah total kami berempat 120kg. Edyan, lebih dari 1 kwintal! Bisa kulakan apa aja di Paris nanti? begitu pikir saya.

Tapi menjelang hari keberangkatan, saya makin realistis. Nggak mungkin lah kami bawa banyak koper, ngilu membayangkan bakal nyeret koper dari stasiun ke hotel, belum lagi naik turun tangga di stasiun-stasiun tua di Eropa. Saya juga ingat kerepotan kami membawa koper 'bedol desa' ketika naik campervan dari Adelaide ke Melbourne. Kapok! Akhirnya kami memang traveling light. Dua minggu di Eropa, kami 'hanya' bawa 1 koper kecil (bisa masuk kabin sebenarnya), 1 koper besar (apa aja bisa masuk) dan dua ransel sedang, satu yang biasa dibawa Si Ayah untuk kerja dan satunya yang biasa dibawa Big A sekolah. Oh, iya, bawaan kami tambah satu lagi: anak usia 6 tahun yang kadang minta digendong :p

Packing itu ketrampilan yang bisa dilatih, semakin sering traveling, akan semakin mahir. Lama-lama akan tahu sendiri apa barang-barang yang ngebet kita bawa tapi tidak pernah ada gunanya dalam perjalanan. Lama-lama akan sadar bahwa baju yang kita bawa cuma akan terpakai separuhnya. Standar packing saya sama untuk perjalanan seminggu, sepuluh hari atau dua minggu: bawa baju untuk tiga hari. Nanti cari laundry di perjalanan. Khusus yang hobi foto OOTD, tidak perlu mengikuti saran ini :D

Berikut barang-barang bawaan kami untuk traveling 14 hari ke Eropa, mungkin bisa memberi gambaran bagi yang sedang menyiapkan liburan juga. Karena kami pergi di musim panas (bulan Juli), kami tidak terlalu perlu pakaian hangat yang terlalu tebal. (Baca juga: Tip Packing ke Australia dan New Zealand)

BAJU
- baju empat stel
- Syal panjang 2, pashmina 1 (bisa utk cover bagi busui), jilbab kaos instan 1
- baju tidur 2 stel
- dalaman 5 stel, dipak sendiri dalam travel cell atau keranjang baju dalam
- jaket (tebal/tipis sesuaikan dengan musim)
- kaos kaki 2 pasang (penting untuk di pesawat)
- handuk kecil (dibawa di kabin)
- sepatu (kami cuma bawa yang dipakai)
- jas hujan (yang keren, biar tetep bagus difoto)
- baju renang (akhirnya tidak terpakai, hiks)
- mukena, sarung
- sarung bali (multifungsi utk sprei dadakan, sajadah, tirai, alas piknik, dll)

GADGET
- laptop (Si Ayah harus kerja di sana je)
- ponsel dan earphone
- powerbank
- kamera (kami bawa mirrorless Sony NEX 5N dan pocket Canon S95) 
- tripod
- iPad, atau tablet juga boleh :p
- charger untuk setiap gadget. (Colokan Eropa=Indonesia, tidak perlu konektor)
- notes & bolpen (harus selalu ada di tas yang dibawa/kabin)
- buku bacaan
- earmuff Peltor Little A (untuk melawan bising di airport, pesawat, stasiun)
- payung (ini saya lupa! terpaksa beli di Brussels EUR 5)

LAINNYA
- toiletries (sikat gigi, pasta, sabun, shampo kemasan kecil colongan dari hotel)
- kosmetik (sabun muka, pelembab, tabir surya, lip balm, deodorant)
- tisu basah, tisu wajah, tisu toilet 1 rol.
- tas kresek (tempat baju kotor, tempat sampah darurat, kantung muntah)
- deterjen sachet (beli di warung, supermarket nggak ada)
- obat pribadi (ventolin, parasetamol, minyak telon, handyplast)
- lensa kontak (cadangan kalo kacamata kenapa-kenapa)
- kacamata hitam

MAKANAN (untuk yang mau masak sendiri)
- mie instant untuk gawat darurat
- beras, sedikit aja untuk awal
- lauk-lauk kalengan (sarden, kornet, rendang dll)
- sambal (wajib!) dan kecap 
- bumbu instan nasi goreng
- susu formula Little A (soymilk protein)

PENTING
Dompet leher berisi: uang, kartu kredit/debit, paspor, tiket, boarding pass. 

MAHA PENTING: Rice cooker :D

Dompet traveling yang digantung di leher dan earmuff Little A
Dengan semua bawaan, di stasiun bandara CDG Paris
Menitipkan bagasi di stasiun Amsterdam
Ketika kami cerita ke teman dan saudara bahwa kami punya rencana traveling ke Eropa, mereka punya nasihat yang sama: hati-hati banyak copet! Mereka menyarankan kami membawa dompet/tas/kantong yang dikalungkan di leher seperti jamaah haji. Dompet tipis yang berisi paspor, uang, kartu kredit/debit dan tiket ini bisa dimasukkan ke dalam baju atau jaket. Saya anggap serius nasihat mereka karena memang sering mendengar cerita orang kecopetan di Eropa, terutama Paris! Saya bela-belain membeli travel neck pouch ini di toko Kathmandu ketika jalan-jalan di Christchurch, New Zealand seharga $15. Kantongan ini juga bisa dibeli di toko perlengkapan haji atau di departemen store di bagian perlengkapan traveling (cari bagian koper-koper). Alhamdulillah selama di Eropa aman. Tas pouch kecil ini sebagai ganti 'dompet biasa'. Apalagi kalau kemana-mana bawa ransel yang ditaruh di belakang, riskan menaruh dompet di sana.

Salah satu cara kami menghemat biaya makan di Eropa adalah memasak sendiri. Karena itu, kami memilih menginap di apartemen, bukan di hotel, yang ada fasilitas dapurnya. Enaknya mendarat di bandara Paris (CDG), tidak ada pemeriksaan custom sama sekali. Beda dengan aturan custom Australia yang ribet banget, ke Paris kita bebas bawa makanan apa saja. Bahkan tidak ada kartu kedatangan yang harus diisi. Setelah pemeriksaan imigrasi, cek paspor dan visa, kami mengambil bagasi dan bebas lenggang kangkung keluar dari bandara. Pemeriksaan custom hanya dilakukan secara random. Alhamdulillah kami tidak kena random check ini. Saya terbengong-bengong bahagia melewati petugas. Merci beaucoup!

Perlu juga diingat, kalau traveling ke beberapa kota di Eropa, entah dengan naik pesawat atau kereta, kita bakalan kerepotan kalau bawaannya terlalu banyak. Naik pesawat budget antar kota di Eropa mungkin biayanya murah, tapi tarif bagasinya sangat tidak ramah di kantong. Bandingkan dulu sebelum berangkat dengan tarif kereta yang tidak menarik biaya tambahan untuk tas. 

Di beberapa stasiun kecil dan tua di Paris tidak ada eskalator atau lift. Kalau stasiun besarnya biasanya ada fasilitas ini, namun tersembunyi. Carilah tanda disabilitas atau traveling dengan anak-anak (gambar kursi roda dan gambar keluarga dengan anak). Jalanan di kota di Eropa juga tidak selalu mulus. Kami harus menyeret koper-koper sejauh 400 meter di jalan konblok dari stasiun Lille Europe ke stasiun Lille Flandres. Pengalaman lain adalah menyeret koper dari stasiun Brussel Centraal ke hotel Novotel. Tidak jauh, hanya sekitar 300 meter, tapi jalannya berbatu. Saya sarankan menginvestasikan uang untuk membeli koper yang bagus. Koper kami merk American Tourister (adiknya Samsonite). Harganya sekitar 1 jutaan kalau sedang diskon. Lumayanlah daripada koper kami seharga $35 (beli di Sydney, merk abal-abal) yang langsung jebol sekali pakai.

Selama jalan-jalan, kami juga sempat menitipkan koper kami di stasiun Koln (Cologne), Jerman dan stasiun Amsterdam Centraal, Belanda. Di Koln, kami cuma punya waktu singgah tiga jam. Penitipan di stasiun Hbf Koln ini canggih banget, pake mesin otomatis seperti mesin ATM. Nanti saya tulis tersendiri. Di Amsterdam, kami perlu menitipkan koper karena di hari terakhir di sana, kereta kami baru berangkat jam 3, padahal kami sudah harus cek out dari penginapan. Penitipan tas di Amsterdam ini mirip sewa loker, kita operasikan sendiri dan membayar dengan kartu kredit.

Ada teman yang bilang, tidak perlu membawa rice cooker karena beras di Eropa sudah 'setengah matang' dan bisa dimasak dengan cara direbus sekali saja. Waduh, saya kok belum percaya ya. Saya ingat pengalaman pahit ketika campervanning, makan nasi gagal karena malas bawa rice cooker. Kami sangat bersyukur membawa rice cooker (dan sedikit beras) mengingat pengalaman kami di hotel Meininger. Hotel ini saya pilih karena murah, tapi memang di sekitarnya tidak ada apa-apa. Ketika kelaparan malam-malam, kami tinggal menanak nasi di kamar mandi, dan menghangatkan rendang daging sapi. Karena tidak bawa piring, kami terpaksa makan langsung dari kalengnya. Duh, syedapnya!

Bukan iklan :p
Bagaimana pengalaman kalian packing? Barang apa yang wajib dibawa?

~ The Emak 

 

Baca juga: Tip Packing ke Australia dan New Zealand

dan tulisan lain tentang Trip Eropa:VISA
Mengurus Visa Schengen Untuk Keluarga 
Membeli Asuransi Perjalanan Untuk Visa Schengen


TRANSPORTASI
Berburu Tiket Pesawat Murah ke Eropa
Tip Membeli Tiket Kereta Keliling Eropa
Terbang Ke Eropa Dengan Emirates
 
ITINERARY
Pertama Kali ke Eropa? Ini Itinerarynya!

PENGINAPAN
Mencari dan Memesan Penginapan dengan Airbnb  

Review Novotel Off Grand Place Brussels
Review Hotel Meininger Amsterdam